Memaknai Hari Raya Idul Fitri

Idul Fitri kali ini begitu istimewa buatku pribadi. Selain telah mengikuti kelas yang diselenggarakan oleh Institute Ibu Profesional, bergabung dengan komunitas baru ini membuatku menjadi semakin memahami peran hidupku. Keputusan-keputusan yang diambil tidak lagi mempertimbangkan ego pribadi, tetapi juga banyak faktor yang ikut mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Hamil anak keempat, melanjutkan studi lanjut dan menyerahkan sepenuhnya takdir hidup pada Allah, membuat diri ini menjadi semakin yakin bahwa akan ada sesuatu yang lebih besar lagi selepas Ramadhan ini. Masa depan tidak dapat diprediksi keakuratannya, tetapi setidaknya saat ini aku sedang menyusun rencana strategis untuk kehidupan yang lebih baik. Sebagai seorang ibu, Idul Fitri ini menjadi pelecut agar semakin meningkat kesabarannya. Anak-anak yang tumbuh membesar, kehidupan yang semakin kompleks yang membersamai tumbuh kembang mereka. Yap, mereka telah memiliki melieu alias lingkungan pertemanan yang lebih akrab dengan teman di rumah, karena sedang libur sekolah. Mereka anak-anak ekstrovert sangat terpengaruh oleh lingkungan. Syawwal ini membuatku menjadi lebih sabar, menurunkan tone suara di kala mereka "membuat" ulah, dan mulai mengerem bila diri ini mulai "emosi". hehe...
Sebagai seorang istri, semakin sami'na wa atha'na pada suami. Bahwa suamilah pemegang tanggung jawab pencari nafkah utama dalam keluarga. Kalaupun sekarang diri ini nyambi-nyambi cari penghasilan tambahan, itu murni karena keinginan untuk memenuhi keinginan pribadi, bukan karena pemenuhan atas kebutuhan diri dan keluarga seperti beberapa tahun lalu. Yap, tugas utama istri adalah mendukung dan mendampingi suami. Suami akan tenang bekerja bila ia tahu bahwa "rumah" nya dikondisikan dengan baik oleh sang permaisuri.
Sebagai seorang anak dan menantu, diri ini menjadi semakin menyadari kelemahan-kelemahan yang memang harus diperbaiki sesegera mungkin. Lebih banyak memberi perhatian kepada orangtua yang telah membesarkan dengan semakin terlihat mandiri.. hehe. iya, terlihat mandiri, karena selama ini sebagai anak bungsu, aku merasa sangat easy going dalam menjalani kehidupan. Melihat sosok ibu kandungku yang selalu ada untuk anak dan suaminya di rumah. Iya, ibuku adalah ibu rumahan, yang tidak pernah ke mall demi biaya sekolah anak-anaknya. Lebih memilih belanja ke pasar atau warung tetatangga untuk mencari kebutuhan sehari-hari keluarga. Atau, berhemat sehemat-hematnya agar besok bisa beli alat tulis kami anak-anaknya. Ibuku adalah role modelku untuk menjadi seorang ibu, ibu yang terbiasa bangun tengah malam dan menyalakan air agar keesokan harinya kami bisa mandi. Ibu yang memasak nasi dan air hangat mulai dari Subuh. Ibu yang sudah membersihkan rumah di pagi hari dan menyiapkan segala keperluan keluarga. Ibu yang juga ikut sosialita dipengajian di masjid dekat rumah dan pengajian ahad pagi. Ibuku yang mungkin tidak lancar membaca Qur'an, tetapi ia menyukai untuk terus belajar. Ibuku yang sekedar lulusan SR, tetapi anaknya yang pertama bisa menjadi Doktor. 
YA, ibu yang hebat akan menghasilkan anak yang hebat pula. Dan, aku ingin agar anak-anakku lebih hebat lagi dariku, agar mereka sesuai dengan penciptaannya. Syawaal ini menjadi momentumku agar aku makin berbenah. Berbenah lagi dalam segala hal.
.
.
Selamat memaknai Idul Fitri, selamat menempuh hidup baru.

Komentar

  1. Selamat menjadi ibu yang bahagia mbak ☺

    Terimakasih, cerita lebarannya indah ☺

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan

Primbon Jawa

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku