Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku


Anakku tiga. Anak pertama dan kedua kembar, laki-laki semua dan kini usianya 8 tahun. Sungguh, aku menyesal telah melewatkan masa-masa emas mereka dulu. Masa-masa bermain mereka kupergunakan untuk bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Sukoharjo. Semenjak mereka masuk ke TK B, aku memutuskan resign dari pekerjaan untuk menyiapkan mereka memasuki dunia Sekolah Dasar. Sengaja, aku memilihkan Sekolah Dasar yang mampu mengakomodir hal-hal yang terlewat di masa perkembangannya dulu, yaitu bermain. Miris ketika melihat bahan belajar di SD yang sudah 'memaksa' anak untuk belajar banyak hal. Huhu. Alhamdulillaahnya, ku menemukan Sekolah Alam Bengawan Solo, yang child-friendly meskipun berada di pinggir sungai, tapi masih ada lahan yang memisahkan sekolah dengan sungainya dan pemiliknya pun ada di situ, sekaligus dompet-friendly. Hehe. Gimana enggak meringankan dompet, sekolah ini menarik biaya yang sangat hemat untuk ukuran sekolah swasta di tempatku. Alhamdulillaahnya lagi, berdasarkan hasil konsultasi dengan terapis, anak-anak kembarku ini mengalami gangguan bahasa dislogia, dimana terjadi ketidakseimbangan antara belahan otak kanan dan kirinya karena dulu kurang stimulus, tidak melewati fase merangkak. Huhu. Untuk itu, sesi terapinya lebih banyak mengolah laku mereka yang cenderung banyak aktivitas, ke arah aktivitas-aktivitas yang lebih terarah. Kalau di rumah, disarankan untuk ikut aktivitas permainan tradisional. Yes, permainan tradisional ternyata banyak menstimulasi perkembangan anak-anak. Engklek, melatih koordinasi kaki kanan dan kiri, menepakkan kaki, konsentrasi, ketepatan. Gobag sodor, melatih kerjasama, kepercayaan diri, kewaspadaan, kecermatan strategi. Congklak alias dakon, melatih motorik halus, hitungan dan kecermatan. Hmm, masih banyak permainan-permainan tradisional yang hemat dan aman juga buat anak-anak. Ketika ku ikutkan tes untuk mengetahui bakat alaminya dengan Tes STIFIn, ternyata, anak-anakku ini memiliki jenis kecerdasan fisik atau tipe Sensing ekstrovert, bila belajar bisa lebih cepat masuk bila energinya dipakai sambil bermain.




Tak ingin melewatkan hal yang sama untik putri ketigaku, alhamdulillah, pengasuhan anak ketiga ini benar-benar kulakukan sendiri sejak ku melahirkannya. Sengaja kubeli buku-buku yang berisi stimulasi untuk bayi balita. Setiap harinya, kuupayakan untuk membuat permainan yang sederhana untuk gadis kecilku ini. Sejak usia 4 bulan, ketika mulai ada tawaran bekerja kembali meski hanya partime, mengisi seminar atau ada tes-tes, sebisa mungkin kuupayakan untuk mengajak si gadis kecil ini. Kakak-kakaknya? Di sekolahnya tadi full day, dari jam 8 hingga jam 3 sore, jadi masih amanlah jika ku ambil pekerjaan. Khusus saat membawa gadis kecil, kadang ku mengajak teman untuk membantu bekerja, bukan mengasuh si kecil. Emaknya ini, perlu memastikan dulu, apakah lokasinya baby-friendly, ada mushola atau ruang laktasi, sedia bawaan cemilan, air putih, juga beragam jenis mainan yang bisa dibawa seperti icik-icik, kalau sekarang karena usianya sudah 21 bulan, bawaannya boneka hello kitty sama kertas pensil dan buku-buku balita. Aku menanamkan di benakku, bahwa anak-anak itu bukanlah beban atau pengganggu. Mereka adalah hasil karya orangtua, dan orangtualah yang mestinya menyesuaikan diri dengan keberadaan mereka. Sehingga putri kecilku ini sudah terbiasa melihat emaknya di panggung, karena ia sendiri juga ada di panggung. Hehe. Ku observasi, kemampuannya untuk bertahan 'bermain' sendiri maksimal 2 jam. Lepas itu, bosan mulai melandanya. Nah, pinter-pinter si emaknya yang mesti tanggap. Microphone berikan pada si gadis, dan tentu saja ijin kepada audiens, sekaligus memberikan bahan belajar kepada audiens melalui pengalaman yang dialami. Menjelaskan maksud-maksud kenapa saya mengajak anak dan memperlakukan demikian, hehe, padahal ngeles aja tuh. Xixi. Tak jarang, si gadis ini mudah tertidur di lantai. Kadang, yang ngelihat miris gitu, saya malah yang menenangkan mereka, bahwa sudah biasa si cantik ini ikut kemana-mana. Ketika anak ini kuikutkan Tes STIFIn, hasilnya sesuai dengan stimulasi yang kuberikan, yaitu Feeling introvert. Si anak ini sering kuajak bersosialisasi dengan banyak, semoga anak ini terasah kemampuan persuasifnya dan jadi orang tenar dan bermanfaat untuk umat kelak. Aamiin.


Ketika di rumahpun, segala jenis mainan tersedia, untuk kakak-kakaknya, aku memilihkan lego-lego yang berukuran besar agar adiknya pun bisa ikut bermain dengan aman karena tidak takut tertelan. Lego itu melatih kreativitas anak, dan sosialisasi anak. Imajinasi mereka muncul tanpa ku duga saat mereka bermain lego. Di sela-sela bermain, taklupa nutrisi penting berupa makanan dan minum putih selalu ku berikan. Ada pula sediaan obat-obat, plaster juga obat penurun panas Tempra Syrup . Alhamdulillahnya lagi, peran ayahnya sebagai role model untuk anak lelaki bisa dilakukan oleh suamiku, karena pekerjaannya yang fleksibel, dan kriya tangannya yang lebih crafty dariku, hehe, ia bisa membuat macam-macam kreasi mainan lain buat anak-anakku. Darinya pula aku belajar untuk dapat mengatur waktu. Ia mengajarkan ketepatan waktu dan selalu mengutamakan urusan keluarga daripada yang lain.
Memilihkan lokasi bermain, tempat bermain juga maksud dari permainan, membuatku belajar banyak hal, bahwa dunia bermain bagi anak adalah mutlak, bisa jadi ini yang menyebabkan anak-anak yang kurang bermain di masa 'bermainnya' menjadi banyak bermain di masa 'seriusnya'. Aku selalu angkat topi kepada ibu-ibu bekerja tetapi mereka bisa memberikan pengasuhan yang baik pula untuk anak-anaknya. Menyadari kelemahanku bahwa aku tidak bisa fokus pada banyak hal, membuatku memilih prioritas utama, bahwa anak-anak lebih membutuhkanku daripada orang-orang di luar sana. Aku yakin, akan tiba suatu masa, saat anak-anak menemukan dunianya sendiri-sendiri, saat itulah, aku akan berkarya kembali untuk umat yang lebih luas lagi. Sungguh, dunia bermain anak-anak di awal masa perkembangannya adalah bersama orangtuanya, dont miss it πŸ˜ŽπŸ˜Ž
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Blog ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Komentar

  1. Matur nuwun bu, mencerahkan soal pentingnya bermain, tapi juga membuat hati jadi basah teringat anak2 yg menunggu emaknya pulang utk bermain bareng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bu, saya telat sadarnya.. hiks..

      Hapus
  2. Seruuu, bermain sambil bersenang - senang ya mb

    BalasHapus
  3. Tehnik edukasi dan promosi paling menarik adalah dengan cara bermain.
    Enggak anak2 aja, emak bapak juga sukanya diajak bermain. Liat aja, gimana outbound banyak digandrungi para pekerja dan undian berhadiah itu bisa menarik emak bapak untuk belanja banyak2. Itu semua dibungkus dalam kegiatan yang disebut bermain.
    So...jangan segan meluangkan waktu untuk bermain dengan anak, pastinya jenis permainan menyesuaikan segala faktor

    BalasHapus
  4. Dadi sadar yen wektu dolanane anak2ku kurang. Padahal bapake mbiyen yen dolanan ngasi ra ngerti wayah.
    Resign. Seperti membangkitkan naga tidur (efek film kungfu), dadi pengen resign lagi kie. Ben wektune nggo anak2 full lan fokus. Suwun ya mbak, dielengne... Sekarang saatnya berjuang..!

    Tulisane Mantap sak jose. Yes.
    Gur font.e, duh "time new roman" ya.. Iki dasar mripat tuo, moco ngasi ping 2 ben iso ngehh, soale tulisane dadi gatuk kabeh... hahahahaha.... (ngeles, soale ra dong)

    suwun2

    BalasHapus
  5. Waaaaaahh tulisan bagusss ibuu.. saya jadi sadar harus belajar ekstra dalam mempersiapkan diri jadi ibu (padahal nikah aja belum hehe) Ada banyak hal yang belum saya pahami dan saya hanya bertanya tanya, tapi lewat tulisan tulisan seperti ini saya jadi belajar banyaaak..
    Terimakasih ibuuu sudah berbagiii 😊😊😊

    BalasHapus
  6. Keep fighter
    Bismillah semoga anak anak menjadi sholih dan sholihah
    Meski aku juga melewatkan masa emas anak anak ku tapi sebisa mungkin kemanapun selalu quality time with fam😊😍

    BalasHapus
  7. artikel yang ber manfaat syekalΓ¨ee datang sangat mengena di diri saya mba πŸ˜…
    alhamdulillah. ..
    terjawab sudah pertanyaan saya dulu mba, kenapa njenengan yg sepertinya hobi mbolang dan career woman kog pilih resign dari kampus 😊
    in syaa a Allah inilah yang terbaik, agar bisa maksimal mendampingi anak-anak

    BalasHapus
  8. Bagi saya yang masih "sendiri" (belum bersuami apalagi anak), tulisan ini benar-benar menjadi pembelajaran berarti untuk saya.
    Iya, Ibu yang hebat itu... tidak berhenti belajar, mau memahami kebutuhan2 dasar anaknya dan selalu mengupayakannya (termasuk menemani / membersamai anak bermain), dan ya.. tidak menjadikan anak sebagai beban.

    jadi teringat, jaman2 kuliah dulu saya rajin sekali olahraga dan benar2 berusaha menjaga pola makan, tujuannya agar fisik saya bisa tetep prima untuk beberapa tahun ke depan masih bisa larilari-main bersama anak(-anak) saya nantinya (amiin). Dan tulisan itu mengingatkan saya untuk kembali menjalani pola hidup yang lebih sehat... :')

    BalasHapus
  9. Ya allah itu beneran smpai tidur di lantai? Hehe seru ya, malah enak nggak perlu gendongan, ngantuk bisa tidur sendiri. Saya juga termasuk yang tidak bisa kalau kerja fulltime, tetap sih pingin berkarya, tapi yg fleksibel. Semangat Mom!:)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Primbon Jawa

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan