Gaji Seorang IRT

Di dunia ini banyak ragam profesi, baik dari segi formal, informal maupun non formal. Akan tetapi, dari sekian banyak profesi yang ada, tahukah kamu profesi apa yang paling membutuhkan banyak skill sekaligus energi yang paling besar?
Yap, itulah profesi Ibu Rumah Tangga (IRT). Menggeluti profesi ini bagi sebagian perempuan merupakan sebuah kewajiban, tapi sebagian yang lain memang menganggapnya sebagai profesi. Iya, terbukti di kolom KTP, beberapa perempuan yang tidak bekerja menuliskan kolom pekerjaannya sebagai IRT. Definisi profesi sendiri adalah suatu pekerjaan yang memerlukan kemauan dan skill tertentu serta mendapatkan BAYARAN dari apa yang dilakukan. Noted.
Nah, survey membuktikan bahwa bayaran yang dilansir oleh sebagian pihak lelaki hanyalah dalam sebentuk nafkah. Padahal, jauh lebih dari itu. Perempuan yang menasbihkan dirinya menjadi IRT, seharusnya mendapatkan gaji di luar nafkah yang diterimanya sebagai istri. Bayangin aja? kerja selepas bangun tidur hingga tidur lagi. Lantas, laki-laki pun protes, berapa gaji kami bekerja? Nah, permasalahannya yang lebih dalam lagi adalah.. Sudahkah para lelaki ini sedari muda sudah mempersiapkan diri untuk bisa menafkahi plus menggaji istrinya yang berprofesi sebagai IRT?  Sudahkah ia memperhitungkan kemungkinan pendapatannya kelak ketika bekerja dikurangi dengan pengeluarannya? Sudahkah ia bersiap diri menyambut kehadiran profesional tangguh di rumahnya kelak? Layaklah, bahwa banyak perceraian terjadi setelah si istri merasa suami tak mampu lagi menafkahi apalagi menggajinya. Banyak pula kasus-kasus perceraian terjadi ketika istri memiliki penghasilan lebih tinggi daripada suaminya.
IRT bertugas selain sebagai wanita yang mengandung dan melahirkan anak, ia juga memiliki tugas sebagai Asisten Rumah Tangga, Manajer Rumah Tangga, Manajer Keuangan, Guru untuk anak, Tukang masak alias koki, Pelayan suami, kadang menjadi kurir, buruh laundry dan segenap pekerjaan lain yang tentu dijamin banyak orang yang enggan melakukannya. Hitung saja gaji masing-masing pekerjaan. Jumlahkan. Itulah gaji IRT di luar nafkahnya sebagai istri, di luar sandang, pangan dan papan yang harus dipenuhi oleh si suami.
Kunci utama sekarang adalah, menyiapkan bekal terbaik untuk anak laki-laki kita, mendidik mereka untuk mampu secara finansial sedini mungkin (Rasul mampu menikah usia 25 tahun), dengan asumsi usia 7 tahun sudah belajar perdagangan, usia 12 tahun sudah mampu ekspor, usia 16 tahun sudah mapan.
Kenapa perhitungannya seperti itu? Dekade 80an ke sini menjadi acuan bahwa lelaki sudah dianggap mampu menikah jika ia telah lulus kuliah dan bekerja. Pendidikan yang selama ini diberikan hanyalah pendidikab formal tanpa menyentuh tugas utamanya sebagai pencari nafkah. Banyak orang tua yang bilang, lhoh semakin tinggi tingkat pendidikan yang diperoleh, maka makin tinggi pula peluang untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Nyatanya, pengangguran terbesar justru ditempati oleh para Sarjana disusul para lulusan master!!
Trus apa yang sebaiknya diberikan pada anak perempuan? Mereka perlu dilatih persoalan ketekunan, kesabaran dan keikhlasan. Membekali mereka denga ketrampilan terbaik sebagai calon madrasah untuk anak-anaknya kelak. Perlu juga membekali dengan kemandirian finansial, selayaknya yang dilakukan Khadijah al Kubro yang mampu survive sebelum dinikahi oleh Rasululullah.

Jadi, masihkah kamu merasa bangga jadi anak muda yang masih jomblo tapi melakukan tindakan pacaran tapi kamu menggunakan fasilitas dari orangtuamu?

Think before you act, and act before you do something... Hope your future will be better..

Teruntuk Pejuang Rumah Tangga, surga benar-benar tersedia untukmu... :*

Be happy 😉
@aclimber

*CatatanSensingYangMengukurKebahagiaanDariMateri #Eaaa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Primbon Jawa

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan