Bringing New Hope

Bismillaahirrahmaanirraahiim,

Di atas segala nikmat, ada Allah yang memilikiNya. Ia lah yang memiliki kehendak terhadap segala apa yang terjadi. Sudah penghujung tahun. Tujuan-tujuan apa saja yang telah kita canangkan di awal tahun ini yang sudah melampaui harap kita? Sudahkah kita menelusuri sebab-sebab kegagalan kita. Ah, bukan kegagalan. Tetapi sesuatu yang tertunda. Eaaa...

Bukan itu yang dimaksudkan. Tetapi setidak-tidaknya, masih ada waktu 23 hari untuk habis-habisan mengejar apa yang belum sampai. Dengan tetesan darah, keringat, air mata. Perjalanan ke Annual Briefing Promotor STIFIn 6 Desember lalu membuatku merasa tertinggal teramat jauh dengan perkembangan dunia perSTIFInan. Betapa tidak? Banyak ilmu-ilmu baru yang belum pernah kudengar, dan aku memutuskan untuk fokus di dunia perSTIFInan. 

Tim, kamu kan akademisi, memangnya STIFIn sudah ilmiah? Bukankah ilmunya Freud juga konon katanya "belum ilmiah"? Kenapa selalu diajarkan di setiap fakultas psikologi? 

STIFIn relevan dengan kehidupan manusia. Secara praktisi, tentunya atas ijin Allah, STIFIn mampu untuk membantu kehidupan manusia menjadi lebih baik. Saya mengenal STIFIn sejak 2011. Artinya sudah hampir empat tahun lebih sudah mengenal diri saya sendiri. Namun, kenapa progressnya tidak begitu signifikan? 

Hmm, beberapa alasan klasik menjadi pembenaran. Tetapi memang, inferioritiku ini yang kudu difight dengan istilah "coba", "coba" dan "coba". Maka dari itu, hari ini kumulai mencoba sesuatu hal yang baru kembali. Mencoba menulis kembali. Mencoba untuk bangun lebih awal. Mencoba memperbaiki pola asupan makanan. Mencoba untuk berolahraga. Mencoba untuk membuat sesuatu yang sudah lama menjadi baru kembali. Mencoba untuk lebih mencintai. Mencoba untuk lebih peduli. Mencoba untuk selalu mencoba. Mencoba untuk jualan lagi.. eaa... Biar Allah tentukan hasilnya.

Happy MONeyDAY ^_^
@aclimber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku

Primbon Jawa