Wang Sinawang

Menjadi konselor membuat saya menjadi lebih merenung terhadap kondisi diri yang sebenarnya. Menjadi konselor bukan berarti, -saya yang paling baik, paling gak punya masalah, paling hebat, dewa penolong atau yang lainnya-. Menjadi konselor menjadikan saya terus bertumbuh dengan belajar dari setiap permasalahan yang muncul. Semakin saya tahu masalah orang-orang, semakin saya paham, bahwa masalah saya belum seberapa. 
Kadang, saya pun mendapatkan jalan keluar dari masalah orang-orang. Kadang saya pun dibuat gregetan dan menjadi orang yang lebih sabar dari hari ke hari. Kadang saya pun menangis setelah proses konseling, karena apa yang dialami mungkin pernah saya alami. Kadang saya pun berpikir, kenapa Allah pertemukan saya dengan orang-orang ini.
Saat rumput tetangga lebih hijau, seyogyanya kita tahu kenapa tetangga kita pandai merawat rumputnya. Bisa jadi, usahanya lebih besar karena serangan-serangan untuk merusak rumputnya pun lebih besar. Wang Sinawang, begitulah gangguan psikologis berbasis idiom Jawa menyebutnya. Orang melihat saya kayak gak punya masalah, hidupnya nyaman, selalu tersenyum dan bahagia. Begitupula saat saya melihat orang-orang di sekitar saya. Wuh, enak banget ya, iso ngene iso ngono.. Tapi, segala sesuatunya bakal berubah, jika segala sesuatunya terbuka dengan jelas. 
Belajar bersyukur dengan apa yang telah dimiliki dan bersabar atas ketetapan dari Allah, sejatinya itu benteng dari penyakit Wang Sinawang. Penderitaan yang dialami bisa jadi sepadan dengan usaha untuk mengelola penderitaan itu menjadi suatu hal yang bermakna dalam hidup. Hidup cuma sekali, tapi dibikin untung berkali dengan syukur dan sabar.

Munajat malam, 
di sepertiga hatiku .. :)

@aclimber 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan

Primbon Jawa

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku