SIFAT HURUF ARAB = SIFAT MANUSIA

Ini adalah pikiran orang yang baru belajar, jadi jangan dijadikan referensi untuk kuliah ya.. Bahaya.. Belum tentu juga terbukti kebenarannya, jadi sekali lagi, cuma persoalan pola pikir saya yang baru belajar ..Juga bukan mau ngeceramahin lho, isi dari tulisan ini tidak untuk catatan khotib.. Wkwkwk... Soal apa sih ini? 

Seminggu ini saya belajar Tahsin. Apa itu Tahsin? Apa pula kaitannya dengan sifat huruf Arab dengan sifat manusia? Well, karena mungkin ini gak ada di textbook manapun, jadi jangan sekali-kai dipakai buat bahan kuliah, dipakai buat keseharian saja, to practice in daily ajah :)

Tahsin secara bahasa artinya membaguskan, menurut istilah tahsin bermakna mengeluarkan setiap huruf dari tempatnya masing-masing sesuai dengan haq dan mustahaqnya... Tuh kan, dari definisi istilahnya udah adil banget. Selayaknya di manajemen perusahaan, tempatkanlah para pekerja sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Atau, jika di sekolahan, ajarkanlah sesuatu sesuai dengan kapasitas peserta didik. Atau, kalau di rumah sakit, berilah obat kepada pasien sesuai dengan dosis dan kapasitas tubuhnya. Atau kalau lagi makan, sesuaikanlah dengan kondisi perut dan kantong.. hahaha...

Haq huruf adalah sifat huruf yang terkadang menyertai huruf, mustahaq huruf adalah sifat huruf yang terkadang menyertai huruf dan terkadang tidak. Hukum belajar teori tahsin adalah fardhu kifayah, artinya kalau udah ada yang belajar teori, yang lain terbebas kewajibannya. Tetapi, hukum menerapkan ilmu tahsin ini ketika membaca al Qur'an baik di luar maupun di dalam sholat adalah fardhu 'ain, setiap orang wajib menerapkannya. Wa rattilil Qur'aana tartiilaa,  dan bacalah al Qur'an dengan tartil (perlahan-lahan) (Al Muzammil: 4).Nah, saya yang terbebas euy, kan udah ada pak ustadz yang udah belajar teorinya ampe detill bingit.. Tapi, prakteknya buat baca Qur'an dengan tartil saya wajib bisa, saya wajib berusaha, ini prioritas saya sekarang. 28 tahun idup, tapi sama buku pedoman idup aja masih salah-salah ngebacanya. Pantesan hidup saya masih gini-gini ajah.. Hmmm... Tapi, lagi-lagi jangan dipakai untuk kalangan akademisi lho ya.. Akademisi wajib belajar teori... Saya mah bukan akademisi, praktisi aja deh, one day saya bakal jadi praktisi yang ngakademisi.. Pembelajar yang berangkat dari pengalaman, ini salah satu sifat #Sensingekstrovert kali yak ... InsyaAllah.. Aamiin.

Oya, soal pak Ustadznya juga, beliau namanya Ustadz Edi Sumianto, alumni UMS Tarbiyah yang belajar tahsin langsung dari Madinah gitu.. Cara ngajarnya menurut saya, psikologis banget... Ia pakai metafora-metafora, yang seolah Allah tu mau nunjukin kepada saya soal penyelesaian masalah hidup saya.. Hmmm, Ya, learning by doing gitu deh... Beliau juga kadang nyentil, tapi lebih banyak memberi motivasi, ditambah lagi di kelas ada ibu-ibu yang usianya 53 tahun tapi mau belajar, juga anak kelas 6 SD yang udah hafal 28 juz.. Subhanallaaah... Wes jian, 28 tahun idup ni ngapain aja sih Tim... ??

Trus-trus, hubungannya sifat huruf Arab dengan sifat manusia itu apa??

Sabar.......

Tujuan utama mempelajari tahsin adalah untuk menjaga lidah dari kesalahan membaca Qur'an. Model kesalahannya ada dua macam, kesalahan berat seperti bunyi huruf, harokat, tasdid dan juga kesalahan ringan, seperti mad, nun sukun atau tanwin, mim sukun atau ghunnah. Keutamaan mempelajari dan membaca Qur'an itu merupakan tolak ukur kualitas seorang Muslim. Khoirukum man ta'allamal Qur'aana wa 'allamahu, sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Qur'an dan mengajarkannya. Kadang kita merasa jenis-jenis profesi di dunia ini seolah ada kastanya. Dari kecil anak-anak sudah dilatih bercita-cita untuk jadi dokter, pilot, insinyur, pegawe negeri, dan profesi-profesi lain yang "dianggap" hebat menurut kacamata manusia. Tapi ini, kata Rasul, manusia yang paling baik adalah manusia yang belajar al Qur'an dan mengajarkannya. Jadi, profesi yang bisa belajar al Qur'an dan mengajarkan Qur'an adalah profesi terbaik.. Sayangnya di masa kecilku dulu kalau di suruh berangkat ngaji mesti kabur.. hahaha .. Maafin saya ya Pak, sekarang baru nyadar betapa nikmatnya belajar Qur'an..

Dapat syafaat di hari akhir juga jadi keutamaan belajar Qur'an. Belajar al Qur'an adalah sebaik-baik kesibukan, wuaaaa..... Selama ini disibukkan dengan ngerjain tugas, laporan, kuliah, nyari rupiah dan emas dan tanah dan mobil dan segala harta benda lain, tapi buat belajar ngaji ...? Nyuwun pangapurane Rabb...

Maka, turunlah ketentraman, kedamaian, rahmat dan pahala. Orang yang sering mempelajari al Qur'an dan menerapkannya di keseharian mereka gak galau tuh dengan duniawiannya.. Mungkin ini ya makna, kejar akherat, maka dunia akan mengikuti... Well, salut dengan orang-orang yang mereka beribadah dengan tekun, jadikan kami selayaknya mereka ya Rabb. Allah juga bakal mengangkat drajat orang yang mahir membaca Qur'an, yang terbata-bata aja dapat dua pahala apalagi yang udah mahir.. Kecee deh pokoknya...

Nah, apa sih hubungannya sifat huruf Arab dengan sifat manusia? 

Baiklah, akan saya jawab. Jawaban ini pun saya terinsight dari jawaban pak Ustadz waktu di kelas. Mempelajari sifat-sifat huruf akan membantu kita untuk membaca al Qur'an dengan baik dan benar. Sama halnya, kalau kita bisa memahami sifat-sifat orang-orang di sekitar kita, kita akan dengan lebih mudah untuk dapat berkomunikasi dengan mereka. Kita pun juga akan belajar tentang kondisi diri kita sendiri, di mana letak kerongkongan, lidah, rongga mulut, gigi, mulut, sehingga diri kita akan selaras dengan orang-orang di sekitar kita. Artinya, membuat selaras sebuah bacaan adalah sebuah ketrampilan yang wajib dimiliki oleh setiap individu. Sampai di sini sudah jelas? Oke, rasanya sudah cukup jelas ya.. hehehe.

Gimana caranya tuh? Ni kayaknya pak Ustadznya #Sensing bingit..

1. Luruskan niat dan berdoa
2. Memperbanyak motivasi dan menanamkan pada diri bahwa segala sesuatu bisa dipelajari
3. Contoh dari guru
4. Untuk orang dewasa hafalkan istilah dan huruf-hurufnya, untuk anak-anak dan lansia dimulai langsung praktek dengan contoh
5. Memperbanyak contoh dengan talaqi (guru membaca santri menirukan)
6. Sebelum melanjutkan materi, guru mengulang
7. Setor hafalan setiap selesai materi.

Tuh, kan.. setiap hari kudu menghafal dan menyetorkan sama pak Ustadz. Ketika melakukan kesalahan, pak ustadz gak memarahi, tapi memancing hafalannya. Ketika bener menghafalnya, pak Ustadz memotivasi kalau ternyata bisa kan... Heuheu.. Puk puk pak Ustadz.. Ehh.. 

Udah deh, segerain aja deh belajar ngajinya, mumpung masih idup..... :)

Hanya pembelajar, belum jadi guru :D
@aclimber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan

Primbon Jawa

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku