Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Awal dari Harapan

Udah 1 Oktober aja nih, udah lepas satu tahun lagi berlalu dari terakhir kali ku konsultasi. Jujur saja, untuk masalah ini saya sangat teramat rugi. Capek pikiran, tenaga, uang apalagi. Apalah artinya sebuah gelar jika memang niat awalku hanya untuk itu. Harapan yang dulu biar jadi lebih baik kehidupanku. Tetapi, bergelar banyak pun tidak menjamin rejeki pun bertambah, karena pemberi rezeki dan penjaminnya sesungguhnya hanya Allah semata. Ya, satu Oktober, kusematkan harapan baru. Tak ingin sekedar gelar. Tetapi lebih kepada pelunasan atas tanggung jawab dan tak ingin menyia-nyiakan pengorbanan keluargaku atas kenihilan waktuku kepada mereka. Aku ingin terlepas dari segala beban perkampusan. Aku ingin segera memulai kehidupan baru. Benar-benar baru, meskipun harus berawal lagi dari titik minus.  Satu Oktober, menjadi penanda, usahaku harus lebih keras lagi, doaku harus lebih kuat lagi, bertahan terhadap kelelahan itu suatu yang wajib harus kulakukan. Dan tawakkalku akan kumantabkan lagi…

Wang Sinawang

Menjadi konselor membuat saya menjadi lebih merenung terhadap kondisi diri yang sebenarnya. Menjadi konselor bukan berarti, -saya yang paling baik, paling gak punya masalah, paling hebat, dewa penolong atau yang lainnya-. Menjadi konselor menjadikan saya terus bertumbuh dengan belajar dari setiap permasalahan yang muncul. Semakin saya tahu masalah orang-orang, semakin saya paham, bahwa masalah saya belum seberapa.  Kadang, saya pun mendapatkan jalan keluar dari masalah orang-orang. Kadang saya pun dibuat gregetan dan menjadi orang yang lebih sabar dari hari ke hari. Kadang saya pun menangis setelah proses konseling, karena apa yang dialami mungkin pernah saya alami. Kadang saya pun berpikir, kenapa Allah pertemukan saya dengan orang-orang ini. Saat rumput tetangga lebih hijau, seyogyanya kita tahu kenapa tetangga kita pandai merawat rumputnya. Bisa jadi, usahanya lebih besar karena serangan-serangan untuk merusak rumputnya pun lebih besar. Wang Sinawang, begitulah gangguan psikologis be…

Selalu Ada Udang di Balik Bakwan

Menjelang dini hari, sambil detoks tubuh dengan berliter-liter air putih, disempetin juga detoks isi kepala yang sudah puyeng. Ini soal pilihan atas sebuah tindakan, Kawan. Ya, ibarat ada udang di balik bakwan, setiap pilihan pun selalu diikuti dengan resiko-resikonya. Apapun itu yang ditempuh. Kamu mau jujur, resikonya mungkin gak mujur. Mau boong, resikonya mungkin kagak dipercaya lagi, meski di sebalik resiko itupun juga bakal ada keuntungan-keuntungan. Kamu mau ngerjain tugas sekarang, mungkin kamu bakal puyeng, mau ngerjain besok-besok pun juga bakal tambah puyeng. Hahahaha.. Yang jelas sih, tindakan kita itu mencerminkan isi otak dan hati kita lho.  Jika kita selaras semuanya, insyaAllah kecemasan, kekhawatiran akan sirna dengan sendirinya. Dan digantikan dengan ketenangan hati yang luar biasa, saat resiko terburuk datang.
Semangat mimpi indah yaa.... :) Aku yang selalu di hatimu ... :* @aclimber

SIFAT HURUF ARAB = SIFAT MANUSIA

Ini adalah pikiran orang yang baru belajar, jadi jangan dijadikan referensi untuk kuliah ya.. Bahaya.. Belum tentu juga terbukti kebenarannya, jadi sekali lagi, cuma persoalan pola pikir saya yang baru belajar ..Juga bukan mau ngeceramahin lho, isi dari tulisan ini tidak untuk catatan khotib.. Wkwkwk... Soal apa sih ini? 
Seminggu ini saya belajar Tahsin. Apa itu Tahsin? Apa pula kaitannya dengan sifat huruf Arab dengan sifat manusia? Well, karena mungkin ini gak ada di textbook manapun, jadi jangan sekali-kai dipakai buat bahan kuliah, dipakai buat keseharian saja, to practice in daily ajah :)
Tahsin secara bahasa artinya membaguskan, menurut istilah tahsin bermakna mengeluarkan setiap huruf dari tempatnya masing-masing sesuai dengan haq dan mustahaqnya... Tuh kan, dari definisi istilahnya udah adil banget. Selayaknya di manajemen perusahaan, tempatkanlah para pekerja sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Atau, jika di sekolahan, ajarkanlah sesuatu sesuai dengan kapasitas peserta d…