BENAR-BENAR HEBAT, ATAU HANYA “MERASA” HEBAT ?

Ini tu ceritanya mau ditayangin di koran sebelum PilPres, apa daya, kehendak Allah berkata lain, setelah diutak atik, saya mantabkan ditayangkan di Webblog saya.. Selamat Menikmati Menu Sahur .. :D



Kampanye pemilihan presiden 2014 sudah berakhir. Para juru bicara dan pendukung yang dulu menggeliatkan diri menunjukkan kebaikan-kebaikan pasangan yang dibelanya, kini mulai surut seiring dengan berakhirnya masa kampanye. Fenomena saling serang di media sosial, foto diri dan disebelahnya diberi gambar nomor urutan pasangan calon presiden-wakil presiden yang dipilih serta atribut-atribut kampanye yang dulu menyemarakkan di setiap sudut wilayah di negeri Indonesia, kini juga mulai menghilang. Fanatisme kepada salah satu pasangan calon presiden-wakil presiden seolah menjadi virus yang mulai melanda setiap diri masyarakat Indonesia.  Fanatisme sendiri adalah merupakan suatu pembuktian diri bahwasanya si pendukung/fans akan membela dengan cara apa saja untuk membela apa yang ia kagumi.  Sikap ini tentu saja akan berkebalikan dengan pola acuh tak acuh dari golongan putih yang memutuskan untuk tidak memilih siapapun. Golongan putih akan bersifat lebih santai, karena siapapun yang terpilih tidak akan pernah mempengaruhi kepribadiannya sendiri. Sedangkan golongan yang diharapkan netral, ia akan merasa adanya ambiguitas kepribadian, di sisi lain, ia menjadi seorang aparatur negara yang tidak diperbolehkan untuk membela terang-terangan, di sisi lain, ia sebagai warga negara biasa juga memiliki hak untuk dapat menyuarakan aspirasinya. Hal ini sebenarnya bisa diatasi dan sudah dilakukan oleh sebagian pejabat pemerintahan, tinggal lepas baju ‘kenegaraan’ dan berganti dengan baju ‘kemasyarakatan’. Kebutuhan untuk beraspirasi ini, penulis rasa sudah mencapai tahapan tertinggi bagi masyarakat Indonesia menjelang PilPres kemarin, terutama dengan semakin banyaknya akun-akun di sosial media yang bermunculan. Pola kekaguman ini dapat ditunjukkan dalam suatu teori hubungan saling menaklukkan yang diambil dari turunan teori Carl Gustaav Jung seorang pakar Psikologi Analitis, di mana satu tipe fungsi dasar  memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh tipe fungsi dasar yang lain.
Mengamati   perilaku para pendukung di sosial media dibandingkan dengan tipologi yang dimiliki oleh para kandidat calon presiden, dapat ditemukan sebuah pola unik dari hubungan kekaguman tersebut. Calon presiden dengan nomor urutan pertama memiliki tipe yang visioner, mampu mengkapitalisasi aset dan konseptual, tipe seperti ini akan banyak dikagumi oleh tipe-tipe pelaksana praktis dan tertata pekerjaannya, karena tipe pelaksana memerlukan konsep yang baik untuk mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan calon presiden dengan nomor urut dua, memiliki tipe yang terstruktur, mampu membuat sistem  dan tegas, tipe seperti ini akan banyak dikagumi oleh tipe-tipe yang kreatif dan inovatif, karena semakin kreatif seseorang, maka ia akan semakin mengalami kebingungan mengenai cara untuk melaksanakan ide-idenya. Bagaimana dengan tipologi masyarakat Indonesia secara umum? Mayoritas masyarakat Indonesia memiliki tipe yang mengedepankan ‘rasa’, tipe masyarakat Indonesia yang seperti ini akan sangat dengan mudah kagum kepada orang-orang yang mampu mengambil ‘rasa’ atau menyentuh sisi emosinya. Terbukti, 32 tahun masyarakat Indonesia seolah ‘takluk’ kepada seorang Presiden yang memiliki kecenderungan mampu mengayomi, rela berkorban dan dianggap memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Terbukti pula setelah itu, belum ada presiden yang lama memegang jabatan kecuali presiden terakhir yang bertahan dua kali periode hingga sekarang, juga memiliki tipe yang mampu memberikan sentuhan emosional kepada masyarakat Indonesia.
Garis bawah di tulisan ini bukan lagi memperdebatkan siapa menang, siapa kalah, bukan pula persoalan siapa yang akan menjadi presidennya, akan tetapi fenomena yang unik yang muncul di sosial media yang menunjukkan aktivitas asertivitas yang sangat menonjol pada masing-masing pribadi saat menjelang PilPres lalu. Asertivitas merupakan suatu perilaku yang mau mengungkapkan apa yang ada di pikir dan di hati dalam rangka untuk mengurangi atau menghindari kecemasan yang ada pada diri inidividu. Di dunia maya, mereka mampu untuk mengungkapkan isi hati dan isi pikirnya, tanpa perlu ragu ada undang-undang elektronika lagi. Di sisi lain, jika mereka berhadapan dengan ‘lawan’ pikirnya di dunia nyata, seolah tidak terjadi apa-apa dan cenderung ada kekurangmampuan untuk mengungkapkan apa yang ada di hati.  Hanya saja, apakah masing-masing individu, baik secara personal maupun secara kolektif dapat meningkatkan kualitas dirinya sendiri dan masyarakat di lingkungannya meskipun pasangan yang dipilihnya tidak terpilih?
Padahal ada sesuatu yang lebih penting dari sekedar membela mati-matian calon presiden dan wakil presiden. Menjelang AFTA 2015 yang tinggal menghitung bulan, apakah masyarakat sebagai pemilih sudah menyadari tentang adanya serangan Sumber Daya Manusia asing yang ‘mungkin’ akan segera menggantikan Sumber Daya Manusia  pribumi? Tantangan yang kemudian muncul adalah, pesaing atau lawan kita adalah bukan lagi sesama masyarakat yang berkewarganegaraan Indonesia saja, akan tetapi pesaing dari luar Indonesia yang akan dengan mudah merebut pangsa pasar pekerjaan dan aset di Indonesia. Sudahkah pemilih fanatis membuktikan dirinya benar-benar hebat baik di dunia maya ataupun nyata, atau hanya sekedar ‘merasa’ hebat? Jangan-jangan akun di sosial media hanya cermin palsu yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Selepas PilPres menjadi wajib hukumnya bagi masyarakat Indonesia untuk berdamai, bersinergi dan bersama-sama untuk  meningkatkan kualitas diri dan masyarakat di lingkungannya sendiri, entah siapapun presidennya.

@aclimber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku

Primbon Jawa