Belajar jadi Orangtua

Pagi hari di kemarin lusa, Seorang bapak datang mengeluhkan keadaan anaknya yang beranjak remaja yang sekarang sudah susah untuk diajak berkomunikasi, suka kasar dan mulai berpacaran. Sekilas jika melihat bapak ini ia termasuk orang yang mengedepankan ajaran agama untuk pendidikan anak-anaknya. Saat anaknya di ajak masuk ke ruangan, dibantinglah henpon si anak di depan bapaknya sambil berkata "apa ini henpon jadi ded, aku tu gak bego pake dibawa bawa kesini aja, itu keinginan situ bukan keinginan saya". Hmm, hela nafas, pahamlah saya, si anak datang bukan karena keinginannya sendiri. Sambil menerapkan bahasa "membeo" yang diajarkan kang Asep Haerul Gani seolah saya masuk ke dunia si anak, ternyata si anak merasa cemburu kepada ibu kandungnya karena bapaknya lebih memperhatikan ibu kandungnya, dua tahun terakhir keinginan-keinginannya tidak lagi dipenuhi oleh bapaknya, digantikan oleh hal-hal yang diinginkan oleh bapaknya. Bapaknya ingin dia sekolah di pesantren, dia ingin les bola, beli baju yang sedang trendy dan bisa bebas bergaul, bapaknya sudah mulai berubah sejak dua tahun terakhir. Lantas sebelum-sebelum itu? bapaknya selalu menuruti apapun keinginan si anak, sampai akhirnya si bapak tersadar bahwa usia anak memasuki usia SMP, sehingga bapak merasa keadaan jaman sekarang lebih berbahaya dibandingkan jaman dulu, sehingga si bapak menginginkan pendidikan terbaik terutama agama untuk bekal si anak. Tidak sinkronnya komunikasi antar bapak-anak ini dibarengi dengan pola pikir si bapak yang menginginkan hal-hal baik sesuai dengan pikiran si bapak, tetapi tidak didukung dengan menanyakan apa yang baik di pikiran si anak. Tujuan awal si bapak datang, hanya ingin tau kenapa anaknya bisa seperti sekarang. 

Siangnya, seorang ibu datang beserta putrinya yang sudah berusia 16 tahun yang konon katanya mengalami hambatan belajar. Usia 1,5 tahun, anak ini mengalami benturan keras di kepalanya sehingga menyebabkan demam tinggi di malam harinya, semenjak itu konon perkembangannya menjadi lambat. Sekilas postur tubuh anak ini normal, hanya saja cara berbicaranya sangat lamban dan perlu diulang dua kali untuk dapat memahami maksud pertanyaan. Tulisannnya masih seperti tulisan anak kelas 1 SD, besar-besar dan tanpa spasi. Si ibu datang untuk mendapatkan saran kemana anak ini harus disekolahkan, karena di sekolahnya sekarang (SMK jurusan Boga, nilainya di bawah 1 = 0, ... ). Ibunya khawatir anaknya tidak dapat naik kelas (saat ini duduk di kelas 2 SMK), sehingga ibunya ingin setidaknya anaknya mendapat ijazah SMA, bisa berhitung, membaca dan menulis agar tidak mudah dibohongi jika nanti ia buatkan toko kelontong. Dulu ijazah SMP diperoleh dari Kejar Paket B. Bapak ibunya bekerja dari pagi hingga jam 2 siang, sehingga ibunya ingin ada yang membantu untuk menemani belajar si anak.  Hmm, yang membuat terharu adalah, ketika saya menerapkan pola pemaknaan pada ibunya (bukan pada si anak). Ibunya sudah menerima kondisi anaknya dan menginginkan yang terbaik agar ia mampu mandiri jika kelak ia dan suaminya tiada. Putrinya ini kalau urusan kerumahtanggaan juara, ia sangat rajin dan mampu untuk mengurus rumah tangga. Ibu ini sungguh luar biasa, sepulang kerja, ia mengantar anaknya untuk terapi di sebuah lembaga terapi hingga pukul 5 sore. Begitu yang dilakukan hingga usia kelas 3 Sd. Terapi berhenti karena program dari lembaga tersebut juga berhenti. Si ibu juga kurang mendapat informasi mengenai program-program atau tempat untuk anak-anak spesial. Nah, saat saya berbicara dengan si anak, saya tanyakan kepadanya apakah yang dilakukan oleh ibunya itu baik untuknya? Ia jawab ya sambil mengangguk. Saya memintanya untuk mendoakan ibu, si ibu mulai menitikkan air mata. Si anak mengangkat kedua tangannya dan membaca sebuah doa dalam bahasa arab yang saya pun baru mendengarnya,  saya minta ia mengartikan, kurang lebihnya "Ya Allah, berikan bapak ibuku, kesehatan, kebahagiaan dan kesejahteraan.. Amiin".. Saya minta si anak untuk memeluk ibunya, ia berkata "aku malu, aku maunya mencium tangannya saja" .. dan si ibupun memeluk anaknya dari samping  *sodorintisu

Never ending stories untuk kisah-kisah orangtua-anak seperti ini. Menjadi orangtua adalah belajar seumur hidup. Belajar tentang apa yang sebaiknya dilakukan dan sebaiknya tidak dilakukan. Belajar tentang menjadi teladan. Belajar untuk lebih terbuka dan lebih komunikatif. Belajar tentang kasih dan menyayangi. Belajar tentang investasi. Belajar tentang harapan-harapan. Belajar mempererat hubungan suami-istri. Belajar untuk mendukung satu sama lain. Belajar untuk menahan ego, karena apapun yang terjadi pada anak, sumber utamanya adalah kondisi psikologis, sosial, ekonomi, politik,biologis dan keagamaan dari orangtuanya. 

#HappinaProjects :)
Great Processing :D
@aclimber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku

Primbon Jawa