Lebar yang Lebur

Sudah hampir jam setengah tiga pagi, tapi mata ini masih belum mau terpejam. Bunyi kruncung perut sudah kudiamkan dengan sepiring tetelan iga sapi berbalut busana asem-asem daun kedondong ala ibu mertua kakakku dari Bojonegoro. Pedasnya mantaabb rek... Dann, ini sudah masuk lebaran hari ke-4. Well done, beberapa hal sudah terlaksana, beberapa belum. Subhanallah wa hasbunallaah.. 
Maafkan segala khilaf, segala penundaan yang membuat segala kekacauan hati. Tidak bermaksud untuk menyakiti, sungguh, niat dalam hati hanya ingin memberi manfaat. Semoga apa yang sudah dilakukan selama ini, berbalas dengan hati yang ikhlas, surga di sana yang kuharap.

Aihh, udah gak pengen puitis-puitisan, memang kagak bisa berpuisi ria. Setelah hampir semalaman berdiskusi dengan seorang kawan, hidup itu sawang sinawang kawan, tinggal bagaimana meletakkan porsi kita masing-masing. Gak ketinggian, juga gak kerendahen. Begitu yak? 

Aihh, entahlah, aku sendiri juga lagi bingung mau menuliskan tentang apa. Tentangmukah, tentangkukah, atau...

Yang jelas, Ramadhan ini jadi ramadhan paling spesial, baru sekarang bisa ngerti makna ikhlas. Baru sekarang bisa paham betul tentang hikmah kejadian tiga ramadhan silam. Baru sekarang juga, ternyata Allah punya makna-makna yang tersirat. Baru sekarang juga, merasa bahwa Allah sangaaaattt dekatt.. heuheu.. kemana aja lu Tim??

Aihh, sudahlah, yang jelas, kita lebur yak di lebar(k)an ini... semua muanya... mulai mengikhlaskan, mulai nuruti dalan, mulai mulai semuamuanya lagiihhh.... 


Great Processing :D
@aclimber

ps. ikhlas mean legowo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan

Primbon Jawa

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku