Sabar (1)

Pagi ini ingin kuceritakan tentang sebuah kisah. Kisah kesabaran. Nikmati dengan sejumput aroma kopi pagi dan seiris cinta embun pagi... Eaaaa....

Sabar sedang menunggu waktunya. Sabar mengingatkanku akan ketulusan, keikhlasan dan kepedulian tanpa batas. Sabar berharap ia senantiasa dipakai oleh manusia, karena itulah ia menjadi bermanfaat. Sabar menyadari jika dirinya merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan, tapi Sabar percaya jika Allah mengirimnya untuk membantu manusia dalam menghadapi setiap masalahnya. Sabar pun kadang juga merasa lelah jika ia harus digantikan dengan Tergesa atau dengan Marah. Sabar selalu setia berada di dalam hati manusia tanpa pernah ia menoleh sedikitpun kepada makhluk di luar manusia. Sabar mengerti hanya orang-orang tertentu saja yang mampu berjalan bersamanya. 

Seperti saat ini, aku mampu bersabar hampir dua tahun untuk tidak "meminjam" lagi agar aku bisa ujian. Hampir lima tahun, aku mencoba berjalan dengan Sabar untuk mendapatkan keluarga yang Sakinah Mawaddah wa Rahmah. Aku berjalan bersama Sabar untuk menunggu seseorang ikut berjalan pula menuju Allah. Hingga pada detik ini, aku mulai merasa jenuh dengan Sabar. Tapi, saat kejenuhan muncul, Sabar selalu mengingatkanku agar terus bersamanya, karena Sabarlah yang akan membantuku untuk semakin dekat denganNya.

Luar biasanya Sabar tuh yah...

Great Processing :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Primbon Jawa

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan