Lu Jual,Gue Beli !!

Wuih, keren banget yak judulnya.. lagi sok-sok an ni ye... Kagak, ntu aye cuman lagi pengen niru niru kalo orang-orang lagi ditantang ma orang pada ngomong itu tuh... 

Yakin deh, aku lagi gak mau nantangin siapapun, atau menerima tantangan dari manapun. Tuh judul terinspirasi dari kisah yang baru-baru aja ku alami. Bukan soal gaya-gayaan, sombong-sombongan atau apapun. Beneran deh... :D

Kisah ini tentang sebuah "Harga" tentang diri seseorang. Bukan harga diri lho... Tapi bener-bener tentang harga. Nominal. Tarif. Hmmm, berulang kali menjadi panitia acara, jadi belajar juga tentang "Harga" menjadi seorang pembicara atau trainer atau motivator atau... apapun lah namanya. Menjadi seseorang yang diundang untuk berbicara di khalayak umum adalah sesuatu hal yang membanggakan untuk sebagian orang, sebagian lagi menjadikan hal tersebut sebagai sebuah mata pencaharian. Contohnya, selebritis (tidak sekedar artis, artis ada juga yang gak mematok "harga" :D ), trainer, hmmm apa lagi ya... 

Soal "Harga" ini yang sering membuatku jadi bertanya, kira-kira 5, 10, 15, 20 tahun ke depan (kalo Allah masih mengijinkanku untuk masih hidup), berapa ya "harga" ku? Eitss, bukan bermaksud itung-itungan. Sekali lagi, ini bukan untuk sombong-sombongan, gaya-gayaan, apalagi sok-sok an. Maklum, ane baru belajar jadi penulis... Hihihi...

Beberapa kali mengontak pembicara, dan yang pertama kali  ku tanyakan pada managernya adalah "Berapa honornya?". Yap, aku belajar dari pengalaman. Beberapa waktu lalu aku mengundang seorang kawan yang boleh dibilang sudah kenal dengan baik -meski tidak akrab-akrab banget gitu-. Yang kutahu, ia sangat concern dengan dunia sosial. Ia menyanggupi untuk hadir di acara memberikan pengetahuan baru untuk kami. Ia membawa tiga orang timnya, dan kami menyanggupi untuk membiayai transportasi dan akomodasi dengan fasilitas yang menengah -sesuai kantong kami tentunnya-. Ku tanyakanlah padanya,gimana nih honornya? Katanya, gampang, kayak sama siapa aja... Oke deh, kesepakatan kami -panitia-,kami memberikan honor sekitar 2 juta, ditambah transportasi  untuk empat orang dengan kereta kelas eksekutif   (kurang lebih semalaman perjalanan) sekitar hampir 1,5 jutaan dan bus eksekutif (permintaannya karena akan menuju tempat lain (sekitar 800 ribuan) serta penginapan satu malam sekitar 400ribuan.Jika ditotal untuk menghadirkannya memerlukan biaya kurang lebih lima jutaan. Baik, kami -panitia- sanggup. Saat acara berlangsung, tiba-tiba henponku berbunyi, ada panggilan masuk dan kulihat luar area Solo. Kupencetlah tombol hijau, berikut percakapannya, kurang lebih...
"Assalamualaikum...."
"Waalaikum salaam, benar ini dengan bu khotim?"
"Iya mba, benar, dengan siapa ya?
Saya X, manajemennya Pak Y, ingin mengkonfirmasi pembayaran honor pak Y. 
Ohh, ya mba  (perasaanku mulai gak enak), gimana mba?
Gini bu, pak Y jika ke luar kota honornya minimal 10 juta, diluar transportasi dan akomodasi.... bla bla bla...
Saat itu, pikiran dan perasaanku campur baur... Hmmm, baiklah, tetap tenang.... 
Gitu ya mba, saya kemarin sudah konfirmasi juga dengan pak Y bahwa soal honor beliau tidak bermasalah, kami hanya menyiapkan dua juta mba karena memang segmentasi kami ke arah sosial/non profit oriented (meskipun peserta yang ikut berbayar, kalau tidak salah jumlah peserta ada 70an dari target 100 peserta @50ribu dan sama sekali tidak ada institusi yang membiayai, murni dari kantong kami sisanya) Coba deh mba, cek lagi ke pak Y
Baik mba, nanti akan kami hubungi kembali.

Sementara itu pak Y memberikan pengetahuannya, dan aku mulai kebingungan, segera kuputuskan rapat darurat dengan panitia yang lain. 
Udah deh Tim, kasih sepunya kita aja, nombok dari mana coba...
Tapi kan gak enak juga nih, sama temenku
Lha gimana lagi, kitanya punyanya segitu, mau ngutang, siapa coba yang mau nglunasin
Iya juga yah..

Di akhir acara, tibalah saat mendebarkan itu, kuminta salah seorang teman panitia yang menyerahkan amplopnya, dan aku hanya melihat dari kejauhan. Kenapa ku minta temanku yang memberikan, bukan aku sendiri yang memberikan? Sebagai manusia biasa, aku merasa malu, malu sekali tapi sekaligus menahan emosi. Malu karena tidak bisa memberikan yang baik sesuai "Harga" pembicara, tapi juga menahan emosi karena menganggap si pembicara itu terlalu "tiunggi" mematok harganya dan asertivitasnya kurang lagi, malu-malu tidak menyebutkan "harga", tapi di belakangnya sang manager menagih biaya. Secara, belum sampai hitungan 6 bulan ia menjadi terkenal di media massa. Kalau sekarang sih udah terkenal banget tentunya, dan mungkin udah puluhan juta "harga"nya dengan pelayanan VIP pula.

Yap, dari situ ku belajar. Setiap kali mau mengundang seseorang, tanyakan dengan tepat dan pasti, berapa "Harga" yang harus dibayar di awal perjanjian, jangan sampai deh, menanggung malu dan emosi yang berlebihan di akhirnya. Eeeh, ini lagi, lagi kontak pembicara, "gak dikasih honor gakpapa, tapi penerbangan yang bisnis class ya"... Baiklah, cuman itu toh, diitung-itung okeh, gak dikasih honor gakpapa, KUCATAT baik-baik. GAK PAKE HONOR, CUKUP SUVENIR. Awas aja kalo dibelakang ngomongin kagak dikasih honor, bener-bener deh, gue mau mention dia tentang artikel ini, dan tentu saja kuedit, biar lebih pedes... (Keep Calm Khotim... Sabar.. sabar... ) Kata sekretaris rektorku, "Sapa sih mba? Jabatannya apa? Kok minta bisnis class, pak rektor aja terbang kemana-mana naik ekonomi kok, selisihnya banyak mba, mending buat honornya". Wuih, jadi tahu juga selera rektorku.. Upss, ngirit ya pak, sesuai jatah yang ada.. :D

Ini belum selebritis kelas dunia, berapa ya "Harga"nya tante Madonna? Bagaimana pelayanannya, mesti ribeeettttt bangetttt....  Tanya om Roy Suryo (heh, kleru, om  Adri Subono mesti retine). Begini toh jadi panitia... :D

Yeah, mungkin orang-orang tersebut sudah ikut Workshop STIFIn Profession kali yak, jadinya tau bahwa salah satu indikator kesuksesan dari profesi adalah TARIF... :D 

Bagi yang ingin tahu lebih lanjut tentang STIFIn Profession bisa hubungi langsung Konselor STIFIn yang sudah tersertifikasi (Promo promo promo... ) --> @indrakubik @DachlanDenny @dodirustandi @andhikaharya sapa lagi yak, mohon mentionnya suhu :D 
Oke, Skip iklannya... 
 
Astaghfirullah, jadi emosian gini.. Tenang Tim, tenang... Oke, saya tetap tenang dan saya tetap tersenyum :D 
Aih, semoga jika ada yang mengundangku (sekali lagi gak maksud nyombong, bisa juga kata "ku" diganti dengan nama Anda :D ), aku mungkin akan menyesuaikan tarif (mergane aku rung tau melu STIFIn Profession, moga Batch 3 isoh melu... amiin ya Allah... ). 

Yap, berapapun harga kita, please, ungkapkan di awal, meski rada kaku, gak enak dan hambatan emosional yang lain. Bukankah akad jual-beli itu juga berdasar kesukarelaan dua belah pihak?  Jual-beli akan jadi hal yang menjadi pahala jika dua belah pihak tidak ada yang merasa mendholimi atau terdholimi. FainsyaAllah, segala sesuatunya akan nikmat. Hubungan akan tetap terjaga, dan jadi pengertian. Bilang "gratis", ya ikhlas, bilang "bayar", ya kudu bisa dinego... hehehe... 

Ku belum menentukan berapa "Harga" ku, Berapa "Harga" mu... ?

Keep Processing :D
@aclimber

Note: Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapapun, tetapi bagi yang merasa tersinggung, ane mohon maaf banget yak, ini cuman tulisan luapan hati yang sedang berjuang menaikkan "Harga"nya.. Hoho...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku

Primbon Jawa