Arti "TEMAN"

Heboh, heboh dan heboh...

Pejabat-pejabat serta makelar-makelar pejabat mulai diperiksa KaPeKa dengan penyelidikan tentang kasus impor daging sapi. Beberapa waktu lalu juga heboh tentang langkanya bawang merah dan harus mengimpor hampir 800 ton bawang merah dari Cina. Begitu juga dengan garam yang harus diimpor dari Brazil. Pun, juga bahan tempe tahu alias kedelai yang harus diimpor dari pabrikan Monsanto Amerika. Eh, BBM yang notabene negeri ini adalah salah satu sumber dunia, harus "dilangkakan" agar bisa disalurkan kepada mereka yang berkepentingan di luar. Indonesia seolah menjadi kasur empuk bagi para pengambil keuntungan. MasyaAllah..

Tapi aku ingin sekarang fokuskan tulisan ini tentang kasus yang terakhir menimpa pejabat PeKaeS yang katanya (ini kalau pak Bibit yang ngomong, gak punya fakta), baiklah aku ganti, yang di televisi dibicarain bahwa telah menerima suap untuk kasus impor daging sapi. Dan yang paling banyak mendapat sorotan adalah AF. Hmmm, don juan, begitu julukannya di salah satu media selebriti. Gosip?? Ghibah... Oh, no ... no... tapi dikit sih gosipnya (wong aku juga gak kenal ma mereka, yang punya account twitter mereka mohon sebutkan ya, biar aku bisa mention ke mereka tentang artikel ini, kan udah gak ghibah lagi :D ). 

Aku ingin berbagi tentang arti kata "Teman". Di kasus tersebut disebutkan bahwa AF telah memiliki seorang istri yang dinikahi siri, kemudian menikah kembali-dicerai, dan yang terakhir dinikahi resmi adalah seorang mantan penyanyi dangdut.. Weeewww... Sang don juan disebut-sebut telah memberikan barang-barang mewah kepada empat orang wanita cantik di luar istrinya. Ingat!! DI LUAR ISTRI-ISTRINYA !! dan mereka semua menganggap bahwa pemberian tersebut sebagai "TEMAN". Kata sang istri, "cukup ini yang terakhir, publik bisa menilai bagaimana wanita macam apa yang sudah tahu bahwa lelaki yang menjadi temannya sudah beristri, tetapi masih mau menerima hadiah tanpa sepengetahuan istrinya". Kata "teman" wanita AF, "Siapa sih yang gak mau menerima hadiah?? Dan saya hanya menganggap itu adalah hadiah PERTEMANAN". Mantabbb mbak brooo... :D

Begitu mudahnya seorang lelaki, yang di jaman sekarang, tidak ada makan siang yang gratis, pasti ada udang di balik bakwan :P. Atas nama pertemanan, berduaan di kamar hotel pun dianggap sebagai kehalalan. Atas nama pertemanan, makan siang berdua juga dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Pantas semakin rusak generasi penerus, gara-gara orang dewasa pada ngasih contoh yang kagak bener. Tuh orang ya, udah beragama Islam,menjadi salah satu "teman" dekat petinggi partai Islam, yo kudune ngerti lah soal etika pergaulan lawan jenis, yang pastinya orang ini SUDAH PERNAH BELAJAR tentang etika pergaulan lawan jenis dalam Islam

Beda halnya, meskipun dia dilahirkan di lingkungan yang beragama Islam, tapi belum pernah sama sekali diajarkan tentang etika pergaulan dalam Islam, ya harap maklum kalau masih campur bawur. Menjadi kewajiban bagi kita yang sudah belajar dan mengamalkan untuk memberikan pembelajaran soal itu. Hmmm, sabar sabar... Hela nafas sebentar... dan beda ceritanya kalau memang sama sekali tidak terlahir di lingkungan muslim dan tidak pernah belajar atau diajari tentang etika pergaulan, ya makluuuummmm bangeeetttt, istilahe orang-orang yang kayak gini hanya Allah yang bisa merubah hati mereka.

Di tulisan ini, aku mencoba memahami bagaimana perasaan istri sahnya AF ketika mengetahui bahwa suaminya memberikan barang-barang yang terbilang cukup mewah untuk wanita-wanita lain. "Kami hanya berteman, lha saya dikasih barang, masak harus saya tolak, wong dia yang ngasih..", ini sama halnya ketika ada teman  saya  yang bercerita bahwa suaminya pernah mengantar "teman" wanitanya ke suatu tempat. Teman saya mengkonfirmasi kebenaran berita yang diperolehnya ke "teman" wanita suaminya -yang sudah bersuami pula-. Kata "teman" wanita suaminya, "Suamimu yang menawarkan diri untuk mengantarku, aku sudah tanya, bagaimana dengan istrimu, kata suamimu tidak apa-apa, ya aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku dan suamimu hanya teman. Dan aku menganggap suamimu dari dulu adalah teman baikku. Aku sangat menjunjung tinggi pertemanan". Weeewww... dan kata "teman" pun dianggap sah untuk membolehkan wanita    untuk menerima tawaran atau hadiah dari lelaki  yang sudah beristri. Wuih hebat banget yak mantra "teman" ini. Selayaknya kata sandi, "teman", menjadi password utama untuk lolos dari tuduhan apapun!!

Kebayangkah bagaimana perasaan sang istri, persepsinya terhadap suaminya dan persepsinya terhadap etika pergaulan yang dilakukan oleh "teman" suaminya? Bisa jadi, ia sudah tahu dan pernah belajar, tapi sedang khilaf, bisa jadi ia hanya tahu dan tidak pernah diajari, bisa jadi pula ia memang belum pernah sama sekali mengetahui tentang etika tersebut. 

"Teman" (dalam batasan normal, artinya tidak ada gangguan homo/lesbi :P ), maka alangkah lebih baik jika lebih banyak mencari yang sesama jenis. Namun tidak dapat dipungkiri, tuntutan pekerjaan dan dunia sosial yang semakin tinggi membuat batasan "pertemanan" menjadi semakin kabur. Atas nama pertemanan, laki dan perempuan dibolehkan tidur berdampingan. Atas nama pertemanan pula, laki perempuan dibolehkan duduk berdempetan. Atas nama pertemanan juga, laki perempuan boleh berboncengan. dan atas nama pertemanan-pertemanan yang lain, maka yang tidak boleh menjadi boleh, yang makruh jadi boleh, yang haram jadi wajib dilakukan (contoh: cipika-cipiki, pelukan hangat, French Kiss, dan kawan-kawannya).

Aku kira Allah begitu indahnya mengatur bagaimana hubungan pertemanan antar lawan jenis. Saat lelaki sudah beristri dan saat wanita sudah bersuami, hendaknya masing-masing pihak mengungkapkan dan menceritakan sejujur-jujurnya tentang siapa saja yang selalu berada di lingkungan sekitarnya. Yang belon nikah aja harus jaga pandangan kok, ini yang udah nikah malah gitu-gituan.. Nah lho... Ini juga ya yang membuat hukum cambuk (rajam) bagi pezina yang sudah menikah lebih berat daripada pezina yang belum pernah menikah.  Kalo sudah menikah, ia pastinya sudah pernah merasakan nikmatnya berduaan dengan lawan jenis, eh lha kok kurang mau cari yang masih harom.... :P 

Ah, "teman", ini sih arti menurutku, saat kita berada di dekatnya membuat kita menjadi orang yang lebih taat kepada Allah, maka kita sudah mendapat teman yang tepat, tetapi sebaliknya, jika hanya kesenangan duniawi saja yang diperoleh, ya wujud akhirnya adalah kesengsaraan yang akan "dipanen" di dunia, dan bahkan di akherat lebih ganas.. Hiii.... na'udzubillaah deh... Bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrim sudah memberikan efek besi panas di tangan. Ampun ya Rabb...  

So, mari nyiapkan diri kita menjadi teman yang senantiasa mengajak kepada kebaikan. Teman yang selalu membawa pencerahan. Berproses pada ketaatan, itu kuncinya...

Ini "Teman" menurutku... Bagaimana arti "teman" menurutmu??

Great Processing :D
@aclimber

Note: Saya dulu pernah juga berada di jaman jahiliah, menyalahartikan "teman" dan alhamdulillah Allah sudah kasih "panenannya" di dunia, semoga di akherat tinggal "memanen" surgaNya. Amiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Primbon Jawa

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan