Dilema (Part 1)

Aih, malam minggu kayak gini mbahas yang agak nggalau-nggalau gimana gitu... dinikmati dengan segelas susu panas, pasti lebih nikmat... monggo...

Pengalaman ini merupakan kisah nyata, bagaimana perjuanganku untuk menjadi biro jodoh. Ternyata harapan hampir setiap orang yang kutemui adalah: jodoh yang baik, sholeh/sholehah, mapan, dari keluarga baik-baik, usia sepadan, dan faktor tampang. Wewwww, satu persatu mulai berjatuhan karena apa yang diharapkan tidak ditemukan. Masing-masing memiliki hak memang untuk memutuskan terus atau berhenti. Tetapi yang jadi persoalan adalah, jika sudah berulang kali melewati proses ta'aruf, namun terus tiada menemukan calon idaman, ini nih yang mesti dijadiin bahan introspeksi diri. Siapa tau ia tidak lebih baik dari yang lain. Sudahkah para jomblowan-jomblowati memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh terbaik? 

Pasalnya, lelaki baik hanya untuk perempuan baik-baik, lelaki pezina hanya untuk perempuan pezina, begitupula sebaliknya.. tentu saja ketentuan ini akan berubah jika ada pertaubatan sejati dari insan tersebut. dari pasal ini pula, akhirnya aku bisa mengambil kesimpulan, yang pernah melakukan perbuatan maksiat (baca:pacaran atau pertemanan melebihi batas) ya dia akan mendapatkan jodoh minimal seperti dirinya atau bahkan bisa lebih, dan cara untuk mengatasinya cuman satu: TAUBAT.

Mari, kawan-kawan yang sedang menanti jodoh atau yang sudah berjodoh namun merasa hidupnya hampa (ceileee...), kita pakai kunci itu tuh, Taubat yang sebenernya, makin mendekatkan diri pada Allah, meyakini bahwa Allah selalu mengawasi polah kita, dan berjanji sepenuh hati sekuat tenaga untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama... InsyaAllah, jodoh terbaik versi Allah pasti akan segera hadir... :D

Note: Teruntuk sobat-sobatku yang sedang dalam penantian, bersabarlah, Allah tau maumu... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku

Primbon Jawa