MAHASISWA AKTIVIS HARAM BER-IP TIPIS!!


Judul yang kuyakini akan mengundang sejumlah pro-kontra untuk mahasiswa.  Mahasiswa adalah sebuah status yang prestisius bagi kebanyakan orang. Status ini tak luput dari peran keinginan orang tua untuk membuat anak-anak mereka menjadi generasi yang lebih baik untuk masa depannya. “Lebih baik” dapat berarti, “lebih” dapat mengangkat status keluarga, “lebih” mendapatkan pengakuan sebagai Sarjana Anu, dan mungkin “lebih” mendapatkan pekerjaan dengan hasil yang “lebih” pula dibanding orang tuanya. Sebagai penyandang gelar mahasiswa, tentu saja sudah memasuki rentang tahapan perkembangan yang dapat membuat si mahasiswa tersebut memiliki kemampuan untuk mencapai kemandirian. Kemandirian yang dimaksud tentu saja erat kaitannya dengan kemandirian secara finansial. Banyak aspek yang akan mempengaruhi kemampuan saat menjadi mahasiswa. Salah satunya adalah aktivitas di luar akademik, bisa jadi organisasi dalam kampus, luar kampus atau aktivis Mall, part timer dan entrepreneur.  
Tidak ada yang salah ketika mahasiswa selain mengikuti aktivitas akademik, mahasiswa memilih menempa kemampuan kemandiriannya via berbagai aktivitas di berbagai tempat. Hal ini akan menjadi masalah ketika mahasiswa yang bergelar “aktivis” memiliki IP (Indeks Prestasi) yang tipis. Eh, ada yang berkomentar, “tuh yang ber-IP tinggi juga akhirnya susah mencari kerja”. Eits, bukan mahasiswa yang ber-IP tinggi  yang kubahas, tetapi maksud tulisan ini adalah ingin memberikan solusi praktis bagi para mahasiswa aktivis yang memiliki IP tipis, plus bergelar “mahasiswa abadi”. IP memang bukan merupakan harga mati untuk kualitas lulusan Perguruan Tinggi (PT), tetapi IP mencerminkan kualitas kompetensi akademik yang dimiliki oleh sebuah  oleh PT, dan inilah yang disebut sebagai prestasi akademik. Sekali lagi, prestasi akademik!!  Toh, akan lebih menjadikan diri lebih berharga ketika menjalani kehidupan sebagai mahasiswa yang mendapat gelar sebagai “mahasiswa aktivis yang ber-IP tinggi dengan integritas kejujuran, lulus tepat waktu, dan mendapatkan penghasilan yang cukup sebelum lulus kuliah”. Gelar yang “WOW”, bukan “PHP”!!
Yap, setiap mahasiswa “aktivis” pasti bisa memiliki gelar tersebut di atas, dengan penuh perjuangan, serta komitmen yang cukup tinggi dari dirinya. Aku menyampaikan tulisan ini tidak ada maksud untuk mencela pihak-pihak tertentu, tetapi bagi pihak-pihak yang merasa “tercela” dengan tulisan ini dapat segera bertobat dari kekhilafannya yang (tidak) disengaja. Untuk lebih memudahkan maksud dan tujuan, aku akan mengganti kata “mahasiswa” dengan “Anda”. 
Syarat utama bagi mahasiswa aktivis, adalah ia memiliki NIAT YANG KUAT.  Anda harus menetapkan tujuan akhir yang ingin dicapai, jika perlu, tempelkan dengan ukuran besar tentang tujuan akhir tersebut, baik di buku harian, pintu kamar, meja belajar, laptop, tablet, dan tempat-tempat yang sering dilihat. Contohnya: IP 3,6+5TAHUN+PENGHASILAN SENDIRI (olah sendiri kalimat Anda). Berikutnya, KENALI DIRI TENTANG GAYA BELAJAR  dan ini sangat terkait dengan manajemen energi Anda kelak.   MANAJEMEN ENERGI adalah suatu kondisi di saat individu mampu untuk mencurahkan segenap energi yang dimilikinya hanya untuk satu aktivitas di satu waktu saja, sehingga aktivitas akademik tidak akan terganggu dengan aktivitas di luar akademik, begitu pula sebaliknya. Untuk mempelajari gaya belajar, Anda dapat menengok masa lalu Anda, kapan dan bagaimana kejadian serta cara pada saat Anda dapat memiliki prestasi akademik yang menurut Anda itu adalah nilai yang terbaik. Apakah dengan berdiskusi (karena malas membaca), banyak berlatih soal, banyak mendengarkan, membuat pola-pola pelajaran, membuat ringkasan, diiringi musik, dan masih banyak cara yang tentu saja Anda sendiri yang mengetahuinya. Bila perlu datanglah ke Biro Konsultasi Pemeriksaan Psikologis (BKPP) Fakultas Psikologi UMS (numpang promo).
Selanjutnya, MEMATUHI ATURAN AKADEMIK, 75% kehadiran merupakan syarat mutlak. Kehadiran Anda menandakan bahwa Anda memang benar-benar NIAT untuk kuliah (baca:mengejar sarjana). Jika tidak dapat memenuhi 75%, ya mending gak usah kuliah saja, berikan hak kuliah itu untuk orang lain. Kalo dosennya yang sakkarepnya, ya itu nanti akan ada bahasan tersendiri.  Mindset utama yang perlu ditanamkan adalah, “siapapun dosennya, apapun yang disampaikannya, itu akan sangat bermanfaat untukku, maka aku akan datang tepat waktu dan duduk di paling depan”.  Inilah peradaban WOW mahasiswa aktivis!!  

Note: Ini juga teguran untukku, segeralah lulus dari Mapro... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku

Primbon Jawa