MENJAGA SEBUAH HARAPAN


Bagi Riza, selembar kertas merupakan harapan besar untuk masa depannya, masa depan keluarga maupun masa depan bangsanya kelak. Melihat onggokan kertas yang mungkin beribu-ribu lembar di kantornya, di kamar kosnya, di kamar kos teman-temannya, membuat ia semakin tak mengerti, mengapa mengapa mereka terabaikan.
Selembar kertas, yang mungkin bagi beberapa orang bahkan banyak orang tidak berharga sama sekali, dan dengan entengnya mereka membuangnya entah ke mana lagi tujuannya. Jauh terpikir oleh Riza beberapa tahun silam, ketika tanah kelahirannya masih banyak berdiri pohon-pohon besar dengan gagahnyaj. Mereka membantu alam untuk dapat menyerap air, mengalirkan kesejukan udaranya bila pagi hari tiba, dan menahan robohnya tebing-tebing di atas bukit untuk melindungi para anak-anak yang ingin melanjutkan cita-cita pendidikan mereka.
Gelayut pikiran Riza makin menjadi, ketika kertas-kertas itu dibuang bercampur dengan onggokan sampah basah di keranjang sampahnya. Kertas yang baru separuhnya terpakai untuk menulis, dengan enaknya dibuang oleh teman-teman sekantornya. Miris sekali hati Riza saat itu, tidak pernahkah terpikir oleh mereka atas kejadian yang mereka perbuat ? Tidak mengertikah mereka kalau kertas-kertas itu adalah hasil olahan dari kayu gelondongan yang dihasilkan oleh hutan di daerahku…desis Riza meratap. Namun, apalah daya, kekuatan Riza hanya sebatas mengumpulkan dari satu hal yang tersisa, bahwa menjaga satu hal berari dapat menjaga hal yang lainnya. Dan ia menitipkan pada kita, bahwa alam ini akan  menangis karena ia tak kan bisa memberikan harapan bagi manusia apabila kita tidak mau menjaganya, meski hanya dengan menjaga selembar kertas yang telah kita gunakan. Dan ia pun menitikan pesan ini padaku. Bahwa harapan untuk tetap ada dan menjaga, karena sampai kapanpun, menjaga sebuah harapan itu akan menjadi penyelamat anak cucu kita kelak.

*Tulisan ini sy buat sekitar 4-5 tahun yang lalu kala saya masih aktif menjadi penulis di buletin IMAMUPSI Cinta Ilahi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Primbon Jawa

Anak-anakku, Dunia Mainmu adalah Bersamaku

Sifat Negatif itu Masih Diperlukan